Selasa, 09 Agustus 2011

Gagal Baca



Euhm, gimana ya..padahal ini bukunya best seller di Indonesia. Reviewnya bagus, banyak banget yang muji. Bahkan ada yang bilang beliau mendapatkan banyak energi saat baca ini. Tapi saya justru ngerasain banyak aura negatif waktu baca buku ini ==”.

Apa sih yang bisa bikin kita selesai melahap sebuah buku? Banyak hal. Tema cerita, konflik, kerumitan alur, karakter tokoh, gaya bahasa, pembawaan cerita. Perpaduan yang pas dari seluruh faktor itu yang bikin sebuah buku enak dibaca.

Kadang ada beberapa unsur yang kurang dari sebuah buku yang bikin pembacanya ngga puas saat menamatkan buku itu.  Sebenernya saya termasuk golongan orang yang terima jadi. Jarang banget saya ngomentarin “Aduh ini harusnya endingnya gini, aduh kenapa sih si ini ga milih si itu aja?, Harusnya si ini itu kaya gini, si itu ga boleh kaya gitu...”. Saya cuma baca, apapun hasilnya saya terima, terus ya menilai buku itu apa adanya aja, segimana jadinya aja. Jadi berhenti baca buku di tengah-tengah karena ngerasa ga worthed buat dibaca itu termasuk jarang saya alamin.


Problemnya di tokohnya saya rasa. Selain tokoh utama, Matari, semua tokoh lain terasa tokoh yang jahat. Selainnya culas, selainnya curang, selainnya tak ambil peduli, sebagian yang baik mudah putus asa dan pasrah, sebagian lain menyerah memperjuangkan hidup dan menghalalkan segala cara. Intinya sih, seolah cuma dia yang punya idealisme, seolah cuma dia yang bersih dan terus berjuang. Ngga suka bacanya..

Banyak tokoh yang muncul, lalu lalang tapi semuanya terasa mati. Bahkan karakter Matari pun ngga terbaca jelas oleh saya. Saya ngerasa dia memang tekadnya kuat, tapi ansos, ngga ada empatinya. Misalnya waktu Bapaknya stress sama keadaan, ngutang sana-sini, minta Matari berhenti kuliah, tapi reaksi dia cuma gini: “Aku kecewa, bapak berusaha menghancurkan mimpiku.” (kalimatnya ga persis gini deh ya). Ya mbak, seenggaknya perhatian dikit gitu sama Bapaknya...

Saya baca beberapa bab terus bosen karena dia jarang banget nunjukkin kalo dia merhatiin/ ngasih something ke orang lain. Fokus dia, dia ngalamin apa, dia nerima manis dan pahit dari orang, dia reaksinya gimana. Terlalu berfokus pada kisah aku. Jadi capek duluan bacanya ==”

Terus terlalu banyak detil tapi jadinya ngalor-ngidul kemana-mana sampe saya bingung sendiri sebenernya si Matari ini mau berbagi kisah apa sama saya. Saya ga dapet fokus ceritanya dimana.
Selebihnya, memang banyak adegan dimana Matari dapet banyak wejangan atau kata penyemangat dari orang lain, terus Matari meresapinya dalam-dalam. Ini yang jadi titik-titik energi buku ini. Tapi saya sendiri ngerasa bagian-bagian itu sampai ke hati saya.

Well, itu karena saya cuma baca beberapa bab aja. Ga sampe setengahnya. Saya loncat-loncat beberapa bab, bahkan sampai bab-bab akhir tapi tetep kesannya sama. Jadilah saya ‘gagal baca’ novel 9 Matahari ini, begitu pula 9 Matahari ga mampu bikin saya melahap habis dia, hehe.

Oh iya, meski gitu ada quote yang baguus banget dari buku ini:
“ Impianku… oh aku sudah memberikannya nyawa. Aku menghidupkannya dalam hari-hariku. Ketika membuka mataku saat mengawali hari, aku menyapanya. Seperti aku menyapa matahari. Ketika beraktivitas, aku biarkan dia menyelusup ke dalam hatiku, mengintip perasaanku, dan membiarkannya berteriak bahwa ia menungguku. Aku meletakkannya dalam takhta tertinggi di pikiranku. Mengalirkan lewat darahku. Membiarkan semua partikel dalam tubuhku merasakan sensasinya. Aku biarkan tanganku meraba sebentar seperti apa wujudnya. Merasakan setiap detail keindahannya. Aku biarkan hasratku berkembang pesat.
Tumbuh…tumbuh menjulang tinggi
Menyentuh langit, mendekati matahari....
Impianku seperti pohon yang menjulang tinggi. Puncaknya menembus awan. Tapi akarnya menancap tanah. Aku membiarkan impianku itu tertanam jauh dalam hatiku. Ragaku ada di bumi, tapi kubiarkan jiwaku melesat, bersamanya jauh…. kuikuti ke mana pun ia bermain....
Terbang… terbanglah melayang tinggi….
Seperti layang-layang yang diulur dan menari di atas sana
Kubiarkan dirimu meliuk dilihat semua mata…sampaikan bahwa aku ada ! “ (Adenita, 39-40)
dan satu lagi mengenai filosofi angka 9:
“ Tar, semua orang pasti tahu angka sepuluh adalah angka tertinggi. Tapi buat gue, sembilan itu angka yang pas buat diri gue melambangkan betapa bernilai dan berharganya sesuatu itu buat gue. Angka itu berada di atas rata-rata, tapi masih menyisakan satu ruang untuk terus mencapai kesempurnaan. Angka 9 masih terus mencari perbaikan diri untuk menjadi 10. Itu yang akan membuatnya terus bergerak, melakukan hal yang lebih baik dari waktu ke waktu. Dari bentuknya , angka 9 lebih menawan. Kalau lu perhatiin angka 8 itu membuat dua bulatan yang tertutup. Sementara angka 9, bagian atasnya membentuk sebuah lingkaran yang menurut gw itu adalah ruang pribadi bagi setiap orang. Seperti sebuah tempat untuk menyimpan keyakinan yang tidak akan terganggu. Sementara buntut di bawahnya adalah ruang terbuka, tempat orang itu bisa terus mengasah dirinya untuk menerima wawasan dan pengetahuan baru, serta akhirnya membuat dirinya terus menerus termotivasi untuk bisa lebih baik lagi. Dan, sembilan itu adalah nilai buat seorang yang terus membawa impiannya dengan semangat matahari, sembilan itu nilai buat seorang matari. “ (Adenita, 296)

0 komentar:

Poskan Komentar

girl's stuff

bagja kana Sunda

Taujih

 

Titik Senyap Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by Buy Engagement Rings | Infidelity in Marriage by Blogger Templates