Selasa, 30 Agustus 2011

eid mubarak



PMS (Premenstrual Syndrome)


Kalau mood lagi kacau, pasti saya bakal bilang ke diri saya, ini pasti lagi PMS. Kalau nafsu makan lagi tinggi, pasti PMS jadi alasan saya. Kalau lagi pengen marah-marah ke orang, lagi-lagi PMS jadi tameng saya. hahaha.. Kadang untung juga jadi wanita, bisa marah-marah, makan banyak, bikin orang lain ketularan bete, hanya karena satu alasan; PMS. But somehow, ga semua orang bakal ngerti kalau kamu lagi PMS. Apalagi kalau itu ngeganggu aktivitas pribadi dan orang lain. So, prepare yourself before PMS disturbed you. Beda tipe PMS beda pengobatannya loh.. (kata anitasuci di http://anitasuci.tumblr.com/post/4106322397/premenstrual-syndrome)
Hmm ya. Kadang saya juga bisa bete seharian dan kalo ada orang yang ganggu atau sok lucu waktu-waktu itu, kira-kira ekspresi saya kaya maung (harimau) lagi ngaum "GRAAAAOOOO" (dan dalam imajinasi saya, saya emang nyakar muka orang itu. hahaha). Kalo ga lagi pengen marah-marah terus, kadang cuma diem ngegalau, bawaannya perasaan ga enak mau ngapa-ngapain (eh itu mah bukan galau deng), atau kadang bawaannya pengen makaan terus. Eh udah gitu sehari dua hari kemudian saya dapet. dan ini masih termasuk normal buat perempuan yang lagi PMS. 

Senin, 29 Agustus 2011

Lambaian Ramadhan


dikutip dari notes mbak Ziyy, yang juga mengutip dari penutup buku "Nasihat Ramadhan Orang-orang Shalih" (Sulthan Hadi), semoga bermanfaat :)


Ramadhan, tahun 10 Hijriah. Ada yang tak biasa dilakukan Rasulullah. Biasanya, Jibril mengetes bacaan Al-Qur’an Rasulullah satu kali, tapi Ramadhan kali itu ia melakukannya dua kali. Begitupun Rasulullah, di ujung Ramadhan, biasanya melakukan i’tikaf sepuluh hari terakhir. Tapi Ramadhan itu melakukannya dua puluh hari.

Sebuah lambaian perpisahan telah datang, dari Rasul tercinta, yang dicintai para sahabat dan umatnya, sementara ia sendiri juga mencintai mereka. Tetapi tidak semua orang mengerti dan memahami isyarat perpisahan itu. Bahkan hingga beberapa bulan kemudian, masih saja tanda-tanda itu belum dirasakan kebanyakan sahabat. Meski pada waktu haji wada’ Rasul mengatakan,”Aku tidak tahu pasti, boleh jadi aku tidak bisa bertemu kalian lagi setelah tahun ini dengan keadaan seperti ini.”

Bahkan hingga lima hari sebelum wafatnya di bulan Rabiul Awal, saat ia menyampaikan beberapa nasihat panjangnya. Ketika di ujung nasihatnya Rasul berkata, “Seungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia menurut kehendaknya ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya.”

Saat itu Abu Bakar menangis sambil berkata, “Demi ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu.” Para sahabat heran. Orang-orang berkata, “Lihatlah orang tua ini, Rasulullah saw mengabarkan tentang seseorang yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia menurut kehendaknya ataukah apa yang ada di sisi-Nya, lalu dia berkata,’Demi ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu.’ “

Akhirnya setelah Abu Bakar menjelaskan bahwa yang dimaksud hamba itu tak lain adalah Rasulullah, barulah para sahabat yang lain menyadari, bahwa detik-detik perpisahan dengan Rasulullah tiba-tiba hadir di kehidupan nyata mereka. Sesuatu yang nyaris tak pernah mereka bayangkan. Bahwa suatu hari kelak mereka akan berpisah dengan Rasul tercinta.

Begitulah, setiap kita mempunyai tambatan cinta yang berbeda-beda. Pada sisi keimanan, tentu semestinya cinta itu tertambat kepada Allah, Rasul-Nya, juga ajaran-ajaran agama-Nya. Pada sisi kemanusiaan, kita boleh menambatkan cinta itu kepada apa dan siapa saja yang halal dan mubah.

Meski kita mengerti bahwa cinta kemanusiaan kita tidak boleh melanggar cinta keyakinan kita, tetapi tetap saja ada duka dan sedih untuk setiap perpisahan dengan apa dan siapa saja yang kita cintai. tetap saja ada tangis untuk setiap kehilangan orang-orang  atau apa saja yang kita cintai.

Maka, yang tak mencintai apa-apa tak akan pernah merasakan kehilangan apa-apa. Di sinilah masalahnya. Orang-orang yang merasa hopeless atau yang menjalani hidup ini dengan tanpa tambatan cinta, akan melewati segala perjumpaan dan perpisahan dengan tanpa makna apa-apa. Ta ada susah, tak pula senang.

Tapi seburuk-buruk orang yang tak punya tambatan cinta, adalah mereka yang tak pernah mengerti arti karunia Allah yang diberikan kepadanya. Sebab cinta adalah kumpulan segala kemampuan kita untuk menghargai. Ada berjuta karunia dan kemurahan Allah yang diberikan kepada kita. Ada usia, napas, tinggi-tegak badan yang segar, pikiran yang waras, uang yang datang dari lorong keringat dan jerih payah,anak dan keluarga, serta alam dengan segala kekayaannya. Semua itu seharusnya menjadi lautan inspirasi bagi kita untuk memiliki rasa cinta, untuk menghargai, dan mengerti akan arti karunia itu semua.

Di atas seluruh karunia itulah kita menikmati hidup ini. Dengannya kita menitahkan jati diri kita, sebagai makhluk dengan peradaban yang tak pernah berhenti mencari gaya barunya. Dengan semua karunia itu, kita yang muslim dan memilih jalan keislaman bisa mengarungi samudera keimanan. Bisa menjalankan bermacam syiar keislaman, yang wajib maupun yang sunnah.

Dalam konteks inilah, kita meletakkan cinta kita kepada karunia Allah. Sekaligus dalam konteks itu pula, kita meletakkan rasa kehilangan kita, akan karunianya ketika ia harus terputus dair kita. Maka, tidak semata dalam kaitan dnegan Ramadhan, sesungguhnya karunia hidup ini punya batas usianya. Sebuah batas yang berada di alam yang gelap, tetapi ia sangat dekat dengan kita, mengintai setiap saat. Seperti serigala yang mengendap menunggu mangsanya tanpa pernah lelah atau tertidur barang sekejap.

Semua perlambang hidup, yang bergerak atau diam, sesungguhnya selalu melambaikan perpisahan, mengalunkan lagu perpisahan. Setiap detik dan setiap waktu. Hari yang selalu baru, sinar matahari yang selalu bergeser dari hangat di pagi hari ke panas di siang hari. Dari panas ke hangat di sore hari. Bayi-bayi yang lahir di seluruh penjuru bumi, menangis dalam ketidakmengertian mereka. Juga para lelaki dan wanita dewasa yang bekerja keras setiap hari, menuju langkah-langkah akhir ketidaberdayaan melawan kematian. Sebagian yang lain menghitung hari, dalam sakit yang berkepanjangan. Semua lakon itu hanyalah para pengiring perpisahan abadi: kit ayang meninggalkan perlambang itu, atau perlambang itu yang harus meninggalkan kita.

Maka, segala kesempatan baru harus kita maknai sebagai kesempatan terakhir. Seperti perkataan Rasulullah, “Shalatlah seperti shalat perpisahan.” Ya, artinya shalatlah seperti seakan ini shalat terakhir kita. Tidak ada yang tahu, apakah masih ada esok hari bagi kita atau tidak.

Seperti sebuah perjalanan yang panjang, sesungguhnya hidup ini adalah kereta tua yang tidak pernah tahu kapan akan berhenti. Ia terus berjalan, melalui apa saja yang ada dihadapannya. Segala yang disisinya melambaikan perpisahan. Tetapi tak ada satupun orang yang mengerti kapan ia akan berakhir.

Setiap lambaian kehadiran, sesungguhnya, adalah lambaian perpisahan. Kita hadir untuk kembali. Kita datang untuk pulang, dan kita lahir untuk mati. Begitulah pada dasarnya. Tetapi garis lurus kehidupan yang singkat itu seringkali terasa indah dan lama, ketika didalamnya banyak gemerlap hiasan dunia. Ada begitu banyak bunga-bunga hidup yang bisa melenakan orang banyak.

Dahulu kita lahir sendiri. Tidak punya apa-apa. Sebagian kita mungkin kemudian punya begitu banyak karunia, rezeki dan kenikmatan lainnya. Tumbuh menjadi pintar, dewasa, dan mungkin kaya. Bagi sebagian kita, mungkin semua itu tinggal kisah masa lalu. Sebagian yang lain mungkin sedang mencoba mewariskan kebesaran itu pada anak cucunya. Sebagian lagi mungkin tanpa bisa mengelak, tengah bersiap-siap mengubur kebesaran itu menjadi masa lalu yang hanya akan menjadi prasasti kenangan.

Dahulu kita lahir sendiri, tidak punya apa-apa. Bila kemudian kita menjadi ramai bersama orang lain, atau menjadi punya begitu banyak apa-apa, sejujurnya, ada saat segalanya seperti jarum jam yang berputar kembali: kita kembali sendiri dan tidak punya apa-apa.

Maka di Ramadhan yang mulia ini, saat sumber kekayaan spiritual dilapangkan luas-luas, saat bermacam karunia tak diberikan pada bulan lainnya, harus ada kekhawatiran bagi kita, jangan-jangan ini Ramadhan terakhir kita.

Selasa, 23 Agustus 2011

Aston !!!


First time I heard them playing cover Viva la Vida - Coldplay. The original Viva la Vida itself is soo amazing already that i can't imagine that there will be another beautiful version. But then someone that i follow on tumblr (rahmawatimega, i guessed) posted this link several months ago and.. just need 10 seconds to made me fell in love with their play.

Aston is an Australian classical music group from Sydney formed in 2009. The band consists of members who all have come out of theSydney Conservatorium of Music: Eliza Morrison (Violin), Michael Bennett (Violin), Hanna Oblikov (Cello), Will Henderson (Guitar), Ella Jamieson (Piano) and Daniel Luscombe (Percussion). (http://en.wikipedia.org/wiki/Aston_(band))
ok there, let me show you how wonderful their music is :)

Aston- Viva la Vida cover

 Aston- Someone Like You (Adele) cover

Aston- Born this Way (Lady Gaga) cover

Aston- Halo (Beyonce) cover


interested? check their web on http://astonmusic.bandcamp.com/

Jumat, 19 Agustus 2011

Wawangsalan


Jadi, apa itu wawangsalan?
Wawangsalan téh nyaéta sisindiran anu diwangun ku cangkang jeung eusi. Dina sindir diwangun deui ku cangkang jeung wangsal. Anu dijieun wangsalna téh tara ditétélakeun, tapi kudu ditéangan tina bagian eusi. Wangsal téh sok murwakanti jeung salah sahiji kecap anu aya dina bagian eusi téa. Nilik kana wangunna, wawangsalan téh diwangun ku dua padalisan: sapadalisan sindir, sapadalisan deui eusi. Jumlah engang dina unggal padalisan nyaéta dalapan engang. (su.wikipedia.org)
Wawangsalan adalah semacam jenis sisindiran yang terdiri dari kulit dan isi. Sisindiran itu perkataan yang 'dibungkus' (hadooh diksinyaa), terkulum sehingga jadi tugas kita untuk membuka kulitnya dan menebak isinya. Yang disebut 'wangsal', dicari dan ditebak dari bagian isinya, yang biasanya berbunyi selaras dengan sebuah suku kata yang berada di bagian isi. Setiap baris hanya diisi dari delapan buah suku kata. Berikut berbagai macam wawangsalan yang telah saya temukan di situs http://opickumis.multiply.com/journal/item/24:

yang jauh, yang terabai, yang terlupakan


Suatu hari, beberapa hari yang lalu, ga ada angin ga ada ujan si ijal ngetwit ke saya sama ilham:


 Papih Fakhru 

#bengong #hening


si ilham kayanya lagi ga OL. Terus karena penasaran juga, saya copy lah twitnya dia terus saya googling. Link yang pertama saya liat, jagong tuhur meunang ngunun haturan bagea sumping itu suka jadi pembuka seserahan kawinan. Lah, siapa yang nikah? 
Setelah saya scroll, akhirnya ada link yang kayanya ngga sesat. Di situs itulah saya temukan jawabannya (sfx: cring cring cring). Yang Ijal twit itu namanya WAWANGSALAN. Sesuatu yang terakhir kali saya dengar waktu SMP. Sedih ya

Seharusnya, kita ngga berjodoh ya


Entah mantera tidur macam apa yang disisipkan ke dalem modul kompre, kedua modul pembahasan itu bikin saya ngantuk seketika. Paling lama dua halaman, setelah itu saya ngga tahan untuk meraih bantal dan menenggelamkan muka di dalamnya.

Ironis. Mengantuk saat mempelajari bahan, termangu saat mengerjakan soal, namun tak dapat memejamkan mata sedetikpun setelah keluar dari ruang ujian. Bahkan kasur yang kuat gaya gravitasinya pun, tak mampu membuai saya dalam mimpi. Terbalik dari yang seharusnya. Siklus yang menyebalkan. 

tanya kenapa saya berdiksi seperti ini? karena emang lagi ga nyante, hehe

Lalu hari ini, Alhamdulillah lebih baik dari kemarin. Seharusnya saya piket kosan. Seharusnya saya ngeberesin kamar dan nyuci baju. Seharusnya saya mengerjakan hal-hal yang tertunda selama dua hari ini. Tapi lagi-lagi kata seharusnya tidak berjodoh dengan saya. Buku Madre yang akhirnya saya dapatkan (meski cuma pinjem sehari di tik tok) sehabis ujian tadi, merajuk minta dibaca. 

Lalu, ketika seharusnya saya menikmati Madre hingga selesai, lagi-lagi gangguan muncul. Baru saja habis melumat kata pengantarnya, otak saya memanggil-manggil, mengajak saya ke alam lain.

Lihat! editor Madre ini memainkan kata-kata. Kamu sudah lama tidak melakukannya kan? Aku kangen, dan pastinya kamu juga. Ayo kita nostalgia sekarang! Ayo kita main lagi sama kata! Kita rangkai, kita ramu! Itu ajak pikiranku, menarik-narik mataku agar pergi dari Madre.

Nah, kemana semua diksi yang lalu saya punya? Banyak yang hilang. Kosakataku terbatas sekarang. Mereka marah, lama tak dirawat. Marah diabaikan, mereka berlarian hilang. Yah, mau tak mau saya harus mulai dengan yang saya punya.

Lalu, pikiranku mengajakku meramu sajak. Atau menenun sebuah kisah. Atau apapun, apapun. Tapi saat seharusnya saya asik merangkai kata, tiba-tiba minat itu tak minta diturutkan lagi. Sudah merasa cukup disini. Di titik ini.

Ah seharusnya, kita memang ngga jodoh ya..

Kamis, 18 Agustus 2011

What You Are


by Jewel


I'm driving around town
Kinda bored with the windows rolled down
See a girl on the bus stop bench
Dressed to draw attention

Hoping everyone will stare
If she don't stand out she thinks she'll disappear
Wish I could hold her, tell her, show her
What she wants is already there

A star is a star
It doesn't have to try to shine
Water will fall
A bird just knows how to fly

You don't have to tell a flower how to bloom
Or light how to fill up a room
You already are what you are
And what you are is beautiful

Heard a story the other day
Took place at the local VA
A father talking to his dying son
This was his conversation

"It's not supposed to be like this
You can't go first I can't handle it"
The boy said "Dad now don't you cry,
Remember when I was a child what you used to tell me when I'd ask why?"

(You'd say) Gravity is gravity
It doesn't try to pull you down
Stone is stone
It can't help but hold its ground

The wind just blows, though you can't see
It's everywhere like I'll always be
You already are what you are
And what you are is strong enough

Look in the mirror
Now that's another story to tell
I give love to others
But I give myself hell

I'd have to tell myself
"In every scene there's a perfect plan"
Everything I hoped to be
I already am

A flower is a flower
It doesn't have to try to bloom
And light is light
Just knows how to fill a room

And dark is dark
So the stars have a place to shine
The tide goes out
So it can come back another time

Goodbye makes a love so sweet
And love is love so it can teach us
We already are what we are
And what we are is beautiful

And strong enough
And good enough
And bright enough

Mengapa Menulis?


Sebenarnya dulu saya ngga kepikiran buat belajar nulis. Sekalinya nulis di note fb gara-gara galau. krik krik. Saya mencukupkan diri dengan menyenangi tulisan teman-teman saya yang pinter dan seneng nulis. Banyak motivasi dan hal lain yang bisa saya ambil. Kebanyakan dari teman saya juga mulai menulis, termotivasi dari lingkungannya. Mencontoh kakak kelas/ tingkat, lalu mulai belajar menulis bersama-sama. Saling sharing, saling mengapresiasi, saling menyemangati. Lingkungan yang seperti itu, sangat menyenangkan untuk bertumbuh dan belajar. Bawaan saya yang haro (males) aja yang bikin saya ngga mencicipi rasanya belajar nulis bareng seperti apa.

Musim ujian dateng, berbagai macam buku, buletin, dan artikel blog berganti jadi buku sukses UAN, seribu pena, dan bundelan latihan soal. Selepas ujian, capek rasanya sama yang namanya tulisan. Butek liat kata. Jelang masa perkuliahan tingkat dua, hidup saya di-(sok)-sibukkan dengan kegiatan kampus. Jujur itu masa paling buta buku buat saya. Saya lebih akrab dengan laptop daripada buku. Sekalinya online, saya nguprek fb dan social network lain. Atau baca scanlation manga. Atau ngga online pun, saya nonton drama korea.

Lambat laun dampaknya muncul juga. Materi perkuliahan sulit saya cerna. Yaa emang mumet dari sananya sih, tapi saya yang sekarang, bahkan ngga punya kekuatan buat mantengin bukunya. Mantengin aja ga bisa, apalagi mencerna. Sigh. Lalu saya nyentuh lagi buku-buku lama. Well, kecepatan baca saya menurun. Kemampuan baca saya menurun =,=. Seiring menurunnya minat dan kemampuan saya membaca, menurun juga kemampuan saya mengolah kata. Nah yang ini fatal, karena...

At least umumnya saya ujian kan bentuknya essay. Saat temen saya nambah kertas folio saat ujian, bahkan sampai 3 x nambah (yang berarti 4 double folio/ 8 lembar folio), saya mencukupkan diri dengan 1 double folio saja. Buat saya sih kurang kerjaan juga ngarang panjang-panjang. Tapi kalau dosennya berpandangan lain, ya gimana..

Selain itu juga, ternyata banyak manfaat yang saya lewatkan dari kegiatan mengakrabkan diri dengan kata ini. Saya pernah baca sebuah artikel, orang yang sering menulis biasanya punya kemampuan berbicara yang baik juga. Ini pasti karena udah biasa mengolah kata. Kalau orang udah suka nulis tapi kemampuan bicaranya biasa aja, ya apalagi kalo dia jarang nulis. Punya kemampuan berkomunikasi yang baik itu ngga jelek kan? Ini yang bikin saya tertarik buat belajar nulis.

Meski seringkali tulisannya ga banyak guna buat orang sampai saat ini, well saya udah cukup puas sih. Yang penting biasain menulis dulu lah yaa, semoga ntar saya better dalam nulis ^^.


kenapa nulis ini? karena saya sungguh ingin ngeblog hari ini tapi entah nulis apa, hehe. 

Selasa, 16 Agustus 2011

Ibu Ketring


just someone that I met recently.

Someone that called me emba when she texted me. Not mbak or mba or mb. Yes, she added e- before mba.
Someone that on Sunday at 3 a.m. sent me catering, then at 17.28 sent me a message, "hari minggu katering libur yaaa..." but soon after i read it, the catering still delivered to my boarding house anyway.

Hahaha. Anyeeeh ibunya...

Pancasila Interaktif


Lagi numblr, terus jalan-jalan ke tumblr orang, terus mampir ke http://yuliantyastri.tumblr.com dan nemu aplikasi ini. Judulnys Pancasila Interaktif: Tentukan Nilai Politikmu. Jujur baru kali ini saya nemuin aplikasi yang nganalisis ideologi dan sebangsanya. Terus saya ikutin deh. Terus pas baca hasilnya? Entah ya tapi saya ngerasa saya emang ga terlalu ambil peduli. Setelah baca hasil analisisnya, yang ada di kepala saya cuma, "Ooh gitu. Terus?". Heu.

yang mau coba silakan klik http://spektika.com/

Senin, 15 Agustus 2011

Tetanusnya Jadi Ngga?


Habis ngantri wisuda Jum'at lalu, fisik saya udah ga ngasih toleransi lebih jauh lagi. Sampai di kosan saya langsung tidur. Padahal udah pasang alarm jam 10 pagi, tapi apa daya baru bangun jam setengah 1 u.u.
Saya amatin luka saya yang ditutup sama plester sedari malem, terus saya lepas plesternya. Niat saya mau ganti. Tapi begitu ngeliat lukanya dengan seksama...
O ow, dagingnya keliatan =____________="
Ternyata luka itu goresannya dalem juga. Saya kira cuma luka biasa, orang ngga kerasa sakit banget. Saya tanya satu-satu penghuni kosan, mereka sama-sama ngerenyit liat luka saya yang kayanya lebih parah dari semalem. Nurul berbaik hati ngasih minyak tawon. Tapi ditunggu-tunggu ko ga kerasa efeknya ya.. dan feeling saya ini lukanya mesti dijahit.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Akhirmu dimana?


lengkapnya bisa dibaca di http://salingsilang.com/headline/artikel/canda-sebelum-ajal-menjemput

setelah berhasil membujuk diri sendiri, "ayo abis tamat satu paket soal tar boleh internetan beberapa jam, ngepost di blog (yg ternyata beberapa jamnya itu sama kaya seharian juga), saya menahan diri untuk ngga buka laptop dulu. Jadi ga apdet dari pagi.

Selepas dzuhur, saya ngecek twitter. Ada temen, sebut aja mutantitan (berasa ga ada temen laen ya saya, sedih :'( ) ngtwit tentang adek lesnya yang meninggal. Dia juga ngeRT twitnya Dinar, dan Poconggg. Nah yang bikin saya heran ko si Poconggg ini sampe tau. Penasaran, saya track siapa yang dimaksud. Ada dua orang, remaja putri. Twit-twit terakhir mereka nunjukkin kalo mereka kayaknya lagi asik sama yang mereka lagi ngalamin:

Wisuda 2011: Rebutan!!


Apa sih yang kebayang waktu denger kata wisuda: tinggal bayar terus leha-leha dilayanin ini itu, dateng rame-rame sama keluarga, ngikutin prosesi dengan nyaman tentram sentosa, foto-foto, selesai deh. 

Tapi buat kita angkatan 2008-lulusan 2011 STAN beda ceritanya. Udah bayar dengan biaya yang ngelonjak jauh dari tahun lalu, masih perlu usaha ekstra juga biar bisa ngikutin prosesi wisuda yang standar #ngeluhmodeon.

Kamis, 11 Agustus 2011

rezeki ga terduga, Alhamdulillah yaa :D


05-08-2011 pk 09:05
Mbk Edis, menang buku dari Tik Tok!

Sender: Ipeh Sf

Pagi-pagi dapet sms ini, saya bingung. saya bales, "siapa?"
Ipeh nge-reply: "Mbak Edis!"

Lah ko bisa?
apa gara-gara suka didenda gara-gara ngembaliin telat, jadi mbak Tiktok ga enak hati terus uang denda saya dipake buat beli buku, spekulasi saya (oke, berlebihann..)

Dan ternyata, hari ini pas saya ngembaliin buku (telat pula), saya dikasihtau kalo saya dapet undian bulanan dari Tik Tok..

Ooh begitu rupanya...

pilihan bukunya: Eragon, Eldest, Twilight, New Moon, Eclipse, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Buku cerita entah apa namanya itu, sama PPH Potput.
Sayang saya ngoleksi Eragon-Eldest-Brisingr. Parahnya, adik saya Edmar juga ngoleksi buku yang sama. Sang pemimpi...kayanya punya *lupa. Saya bukan penggemar twlight, dan buku PPH Potput tidak menjadi opsi :D. Akhirnya saya ambil buku Laskar Pelangi saja. Makasih ya Tik Tok, semoga makin banyak pengunjungnya :))





...dan kenapa ipeh bisa tau? karena nama saya dipajang di depan tiktok (ga ngeh sampe beberapa hari kemudian, hahaha)


Selasa, 09 Agustus 2011

Ziyyan Putri Ramadhanti :)



Ssst... dek Ziyyan lagi bobo :)
 Welcome to the big family, my fourty-something-th cousin. moga jadi anak yang manis dan sholihah yaa :)

Gagal Baca



Euhm, gimana ya..padahal ini bukunya best seller di Indonesia. Reviewnya bagus, banyak banget yang muji. Bahkan ada yang bilang beliau mendapatkan banyak energi saat baca ini. Tapi saya justru ngerasain banyak aura negatif waktu baca buku ini ==”.

Apa sih yang bisa bikin kita selesai melahap sebuah buku? Banyak hal. Tema cerita, konflik, kerumitan alur, karakter tokoh, gaya bahasa, pembawaan cerita. Perpaduan yang pas dari seluruh faktor itu yang bikin sebuah buku enak dibaca.

Kadang ada beberapa unsur yang kurang dari sebuah buku yang bikin pembacanya ngga puas saat menamatkan buku itu.  Sebenernya saya termasuk golongan orang yang terima jadi. Jarang banget saya ngomentarin “Aduh ini harusnya endingnya gini, aduh kenapa sih si ini ga milih si itu aja?, Harusnya si ini itu kaya gini, si itu ga boleh kaya gitu...”. Saya cuma baca, apapun hasilnya saya terima, terus ya menilai buku itu apa adanya aja, segimana jadinya aja. Jadi berhenti baca buku di tengah-tengah karena ngerasa ga worthed buat dibaca itu termasuk jarang saya alamin.

Senin, 08 Agustus 2011

Harry Potter and Deathly Hallows #2


Hari gini baru nonton Harry Potter? Kemana aja?

Haha, saya emang ngga nyempetin buat nonton kemaren-kemaren. Rencananya sih ngajakin adek, Ala tapi berhubung dia ga punya duit dan saya juga ga punya duit buat nyubsidi, akhirnya hari ini saya pergi nonton sendiri. Butek juga di rumah, dari kemaren sore kerjaannya aliran listrik terus. Semaleman malah saya serasa jagain lilin sendirian di rumah =__=. Berbekal dua modul UKS buat pencitraan, saya berangkat ke BIP.

Karena udah tanggal segini, Alhamdulillah antriannya ga heboh. Yang lagi rame sekarang the Transformers 3, BIP 21 buka dua studio utama sementara Harry Potter kebagian dua studio kecil. Jeda nunggu setengah jam saya pake buat buka modul soal (baru sekali ini loh buka modul) dan soal-soal di modul itu menyadarkan saya bahwa saya harus berjuang keras buat kompre :') *belom belajar juga sih sampe sekarang.

It Called: Reunian


Bermula dari note-nya Hasnah, berlanjut ke pembuatan grup DAFA 2008 (kenapa ga dari dulu dibikinnya ya :p), terus kita fix mau ngadain buka bareng dua kali, yaitu tanggal 5 dan 20-an Agustus ini. Karena tanggal 20 kan lagi kompre, jadi kesempatan saya buat ketemu lagi sama sodara seperjuangan semasa sma ini ya cuma tanggal 5 ini aja. Dengan waktu perencanaan dan publikasi mepet (berasa acara resmi), Alhamdulillah yang dateng lumayan, bersepuluh. Rencana awalnya sih, biar lebih bermakna rencananya sebelum ke tempat Rifa sang tuan rumah, kita ngadain kunjungan ke Panti Asuhan Bayi Sehat. Tapi ternyata pada berhalangan, yang positif bisa kesana cuma saya sama Nita aja, padahal ngga ada dari kita yang tau Panti Asuhan Bayi Sehat itu dimana. Krik krik. Akhirnya tercetus ide kunjungannya besoknya aja habis balik sahur, mungkin yang bisa lebih banyak.

Minggu, 07 Agustus 2011

1 Ramadhan: 3 Wanita 3 Cerita


Kemana atuh judul.... heu.

Awal Ramadhan, biasanya ngapain sih? Semangat shaum Ramadhan pertama, menjalani hari dengan ringan hati, menikmati setiap detik-detik sahur, shaum, berbuka, tarawih, serta ibadah lainnya.
Begitu juga saya. Sekilas hari itu tampak segitu aja yang saya ketahui. Namun ternyata 1 Agustus 2011 yang bertepatan dengan 1 Ramadhan kemarin bukan sekadar awal Ramadhan biasa bagi ketiga wanita di dalam keluarga saya. Tiga wanita dalam keluarga saya itu memiliki satu persamaan: sama-sama dititipi Allah sebuah janin, namun dihadapkan dengan nasib yang berbeda.

Selasa, 02 Agustus 2011

Cerita si Vespa Tua


Akhir-akhir ini motor jenis skuter booming lagi. Waktu liat iklan Scoopy, saya jadi inget kalo sampe kelas 5 SD dulu, ayah saya (saya manggil beliau Bapak) punya vespa. Vespanya standar aja sih. Warna biru tua, dengan jok yang menyatu biar bisa bonceng dua orang sekaligus.

Vespa perjuangan ini punya banyak kenangan. Bapak ngandalin banget vespa ini buat ngejalanin semua kegiatannya. Buat nganter jemput ibu atau anak-anaknya, buat pergi ngajar, juga buat kerja (dan demi apalah, ini kan emang fungsi standar motor =.="). Dulu, ayah saya nyambi pekerjaan ngajarnya dengan membuka usaha komputer. Beliau jadi penyuplai komputer di beberapa sekolah. Sampai kelas 3 sd dulu, saya sama adik saya, Edmar suka diajak kemana-mana, malah sampai Banjaran. Secara rumah kita di Bandung gituu.. (ket: rumah saya yang dulu, saat itu wilayahnya masih diklaim sebagai wilayah Bandung). 

Yang suka bikin saya ketawa sampai saat ini, adalah cara Bapak ngejagain kita waktu lagi bepergian. Jarak tempuh yang jauh, waktu perjalanan yang panjang bikin saya sama Edmar suka ngantuk di jalan. Bapak takut kita jatoh di jalan gara-gara ketiduran. Akhirnya Bapak nyari sesuatu yang cukup panjang (akhirnya dipakelah tali tas kerjanya Bapak) buat ngiket kita bertiga. Jadi Bapak bisa tau kalo ada yang ngantuk, terus kalo kita ketiduran ga akan sampe jatoh. Untung waktu itu saya belom kenal sama yang namanya malu ^^. Apa jadinya kalo sekarang saya disuruh naek motor sambil diiket sama tali...

Terus dulu kan ngga ada aturannya helm SNI. Jadi selain helm SNI yang dipake Bapak, cuma ada dua helm a la tentara. Satu warna ijo yang biasa saya pake, satu lagi kadang ketemu kadang ilang. Jadi kalo kita naek motor nih, yang pake helm cuma saya sama Bapak. Edmar ditaro di tengah. Sekalian dijagain, biar ngga gampang keliatan juga sama polisi ^^v.

Nah helm ini, gede banget kalo dibandingin kepala saya. Kalo saya lagi ngantuk, atau motor direm, helmnya bisa kedorong ke depan terus nutupin setengah muka saya. Kalo anginnya lagi kenceng atau Bapak saya lagi ngebut, helmnya kedorong ke belakang dan meski ada talinya buat disangkutin ke dagu..sering banget kelempar jatoh ke jalan. Kalo udah gitu, saya teriak-teriak ngasihtau Bapak saya buat berhenti dulu. Sekali waktu, helm tentara itu jatoh ke jalan dan malangnya ada truk lewat ngelindes itu helm. Saya cuma bisa bengong. Terus Bapak marah-marah, "Makanya kalo naek motor jangan ngelamun, pegangin itu helmnya!!!"

Heu, maaf pak. Maaf ya helm, semoga kamu tenang di alam sana :').

girl's stuff

bagja kana Sunda

Taujih

 

Titik Senyap Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by Buy Engagement Rings | Infidelity in Marriage by Blogger Templates