Sabtu, 02 Juli 2011

Cashflow for Woman: Investasi pada Emas


Tidak seperti barang lain, emas merupakan logam mulia yang cenderung relatif stabil harganya. Hal ini disebabkan jika disimpan dalam jangka waktu lama, emas akan memiliki kadar yang tetap, berbeda dengan logam lain yang cepat rusak. Jumlah logam emas yang terbatas di dunia dan penawaran yang stabil juga menjadi faktor pemicunya.

Terus, kenapa coba emas harus dibicarain di buku ini? Karena emas dan perempuan dalah dua hal yang nyaris tidak bisa dipisahkan (kata penulisnya). Secara naluriah, sudah jadi fitrah bagi perempuan untuk menyukai perhiasan, terutama emas.


Well, untuk fakta yang satu ini ibu saya sudah membuktikannya, haha.
Habis, perhiasan emas itu multifungsi. Selain untuk alat investasi, juga sebagai aksesori.

"Kalau emas kan nilainya stabil ty, jadi kalau dijual lagi ngga akan rugi."

Nyatanya ngga juga ah. Perhiasan emas itu ngga begitu fleksibel untuk diperjual-belikan. Ongkos pembuatan emas menjadi perhiasan itu dibebankan pada pembelinya. Eh terus kalau mau jual, kalau dari toko emas lain atau dari luar kota, toko emas biasanya tidak mau menerima sembarangan. Kalau menerima, harganya di bawah pasar. Apalagi kalau tidak disertai surat keterangan/ kelengkapannya, harganya malah dipotong lagi. Itu karena emas yang dijual itu ngga ada suratnya sih, jadi tokonya ngga mau nanggung resiko ketidakaslian atau kadar emas yang ngga terjamin. (Hikmahnya, pastikan setiap beli emas disertai surat kelengkapannya).
Nah, itu kalo perhiasan emas. Selain dalam bentuk perhiasan, emas juga bisa diinvestasikan  dalam bentuk lain yang malah lebih menguntungkan sebagai alat investasi.

Menurut buku ini, urutan jenis emas dari yang paling baik untuk diinvestasikan adalah:
1. Emas Batangan
2. Koin emas
3. Koin emas murni
4. Dinar
5. Emas Perhiasan

Hmhm, saya bingung dengan poin 2 sampai empat. Selama ini saya kira, koin emas itu bukannya dinar ya? Ternyata ada perbedaannya. Berikut kutipan dari http://koranbaru.com/perbedaan-dinar-emas-batangan-dan-koin-bulion/

Direktur Utama Wakala Induk Nusantara, Zaim Saidi, mengatakan ketiga komoditas itu berasal dari zat yang sama, namun terdapat sedikit perbedaan dari ketiganya. ”Dinar emas adalah 22 karat, batangan umumnya 24 karat. Koin emas yang lain biasanya juga 24 karat. Bedanya dengan dinar adalah kalau batangan tidak ada satuan standar, bisa mulai dari satu gram bahkan sampai satu kilogram,” jelasnya.
Sementara, tambah dia, kalau koin emas 24 karat yang disebut koin bulion biasanya satu troy ounce (31,1 gram). Selain itu untuk kandungan emas antara dinar dan emas batangan juga berbeda. Ia menjelaskan, untuk emas 24 karat kandungan emasnya sebesar 99,99 persen, sedangkan 22 karat kandungan emasnya 91,7 persen, sisanya unsur perak (8,3 persen).
Ia menambahkan, untuk ukuran dinar cukup jelas karena memiliki standar yang sama, yaitu satu dinar adalah 4,25 gram emas, sehingga dinar dapat berfungsi sebagai currency unit. Sementara, lanjutnya, emas batangan atau koin bulion tidak bisa karena ukurannya berbeda-beda dan tidak ada standar unitnya. 
Karena ongkos cetak/ pembuatan dibebankan kepada kita sebagai pembeli dan hilang saat dijual kembali, sebaiknya investasi pada emas batangan koin emas hanya jika skalanya besar saja. Adapun investasi pada emas sekedar 100-200 gram, sebaiknya menggunakan dinar saja. Karena dinar berfungsi juga sebagai alat tukar, tidak akan ada ongkos cetak yang hilang jika dijual kembali oleh kita.

0 komentar:

Poskan Komentar

girl's stuff

bagja kana Sunda

Taujih

 

Titik Senyap Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by Buy Engagement Rings | Infidelity in Marriage by Blogger Templates