Minggu, 29 Mei 2011

Labelisasi Diri: Stereotype


Selepas UTS kemarin, saya seperti biasa menyusur lewat jalan penduduk menuju kosan. Capee ujiannya ga sukses. Lagi asik-asik ngelamun terus tau-tau saya ngedenger sesuatu yang ngga enak didenger dari obrolan ibu-ibu yang lagi ngobrol di teras.
"Alaah, dari dulu juga tau, Sunda emang sunda*." seru seorang ibu.
Astaghfirullah, DEMI APAAA SI IBU NGOMONG KAYA GITU???....... Saya yang udah beberapa meter di depan mereka, rasanya pengen balik lagi terus nyemprot ke muka si ibu tadi, "Bu, sundal mah dimana-mana juga ada. Di suku ibu juga ada. Saya orang Sunda, liat saya, apa saya sunda*?" Argh. bikin tambah bete aja.
Mbok ya gausah sirik ya sama orang sunda, liat aja meski ga pake make up juga keliatan bedanya, kalo udah emang lebih bagus dari sononya ya gimana coba. #ehsalah #gabijak #tapimanusiawi #membeladiri #kalogabeladirisendirisiapalagiyangbelain

Yayayayaya. Sering ga sih kita denger hal kaya gitu. "Jangan sama dia, dia kan suku P, pelit!!"
atau "Kalo cari pasangan, yang sama-sama aja, dari J, lebih sopan, nggak kayak orang B, ngomong aja bentak-bentak"
atau "alah, J suka rasis, jelek-jelekin suku lain, padahal hipokrit tuh."
dsb dsb dsb

atau kalo di kampus,
"Ih ko ketawanya keras-keras, padahal jilbabnya gede."
"Oh, kamu ditolak masuk sana toh? Pantes, kamu bukan dari golongan sana sih."

atau waktu kecil,
"Ih si ini mah kakaknya juga gitu, pasti dianya juga gitu da."
"Alah, pasti kamu kan? Tau, da temen kamu juga si itu tukang boong. Sama aja (kaya kamu)."

Krik-krik-krik. Banyaaaakkk banget kejadian kaya gini. Dari kita kecil dan seiring waktu kita bertumbuh, tetep menemukan hal-hal kaya ini. Sebenernya rasional ga sih kalo dipikirin? Asal muasalnya dari mana ya, ko bisa timbul asumsi-asumsi kaya gitu? daaan herannya masih aja dipake sampe sekarang. Lupa kali ya, itu taktik devide et impera Belanda, buat ngadu suku yang satu dengan suku yang lain dengan cara ngejelek-jelekin suku lain?

Itulah stereotipe: pendapat atau prasangka mengenai orang-orang dari kelompok tertentu, dimana pendapat tersebut hanya didasarkan bahwa orang-orang tersebut termasuk dalam kelompok tertentu tersebut. Mengenai asal muasalnya, kata wikipedia:
Berbagai disiplin ilmu memiliki pendapat yang berbeda mengenai asal mula stereotipe: psikolog menekankan pada pengalaman dengan suatu kelompok, pola komunikasi tentang kelompok tersebut, dan konflik antarkelompok. Sosiolog menekankan pada hubungan di antara kelompok dan posisi kelompok-kelompok dalam tatanan sosial. Para humanis berorientasi psikoanalisis (mis. Sander Gilman) menekankan bahwa stereotipe secara definisi tidak pernag akurat, namun merupakan penonjolan ketakutan seseorang kepada orang lainnya, tanpa memperdulikan kenyataan yang sebenarnya. 
Matsumoto (1996) memaparkan tiga point mengenai stereotipe, yaitu:
1. Stereotipe didasarkan pada penafsiran yang kita hasilkan atas dasar cara pandang dan latar belakang budaya kita. Stereotipe juga dihasilkan dari komunikasi kita dengan pihak-pihak lain, bukan dari sumbernya langsung. Karenanya interpretasi kita mungkin salah, didasarkan atas fakta yang keliru atau tanpa dasar fakta.
2. Stereotipe seringkali diasosiasikan dengan karakteristik yang bisa diidentifikasi. Ciri-ciri yang kita identifikasi seringkali kita seleksi tanpa alasan apa pun. Artinya bisa saja kita dengan begitu saja mengakui suatu ciri tertentu dan mengabaikan ciri yang lain.
3. Stereotipe merupakan generalisasi dari kelompok kepada orang-orang di dalam kelompok tersebut. Generalisasi mengenai sebuah kelompok mungkin memang menerangkan atau sesuai dengan banyak individu dalam kelompok tersebut.
Ketiga hal tersebut menjelaskan bahwa sebenarnya stereotipe adalah sebuah pendapat yang ditarik tanpa dapat menjadi sebuah gambaran yang tepat, karena pandangan kita terhadap objek lebih banyak disesuaikan dengan latar belakang kita sehingga kemudian hadir sebuah kejanggalan.

Stereotipe ini bisa berupa prasangka positif dan negatif, dan kadang-kadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif.
Contoh stereotipe positif: Orang yang pake kacamata itu terkesan lebih pinter, orang pendiem itu baik, dll
Contoh stereotipe negatif: banyak di atas.
Ga percaya? kata Fraser P. Seitel, seorang pakar public relation, menulis dalam bukunya :
Semua orang yang hidup di dunia ini memiliki gambaran steretotipe. Yaitu sebuah image yang melekat dan dipercayai kebenarannya. Kebanyakan dari kita adalah korban stereotipe.  Berdasarkan penelitian, kuliah yang disampaikan oleh dosen berkacamata lebih dapat diterima dibandingkan bila disampaikan oleh dosen yang tak berkacamata. Stereotipe yang melekat dalam benak masyarakat adalah : orang berkacamata selalu lebih dapat dipercaya.
Hmm yg tadi itu saya nyomot dari blognya entah siapa jadi gatau juga judul bukunya. Mana saya lupa buat nyatet sumber, maaf yaa yang punya. >< . Lalu contohnya tindakan diskriminatif itu apa? Ya tadi, misalnya kita jadi lebih meremehkan yang ngga pake kacamata, nanggep yang ga bisa diem itu nakal, dsb.

Stereotipe ini biasanya didapat ketika terjadi interaksi sosial untuk pertama kalinya, biasanya karena berbeda golongan, entah latar belakang, etnik, agama, hobi, atau profesi. Yang ngga enaknya adalah, stereotipe ini menanamkan pemahaman yang menghambat proses informasi sosial secara komprehensif/ menyeluruh. Nyomot dari artikel seorang mahasiswa yang mendalami psikologi sosial di http://annisaavianti.wordpress.com/2010/07/27/prasangka-penyebab-dampak-dan-cara-mengatasinya/:

Stereotip—kerangka berpikir kognitif yang terdiri dari pengetahuan dan keyakinan tentang kelompok social tertentu dan traits tertentu yang mungkin dimiliki oleh orang yang menjadi anggota kelompok-kelompok ini. Ketika sebuah stereotip diaktifkan, trait-trait ini lah yang dipikirkan. Stereotip mempengaruhi pemrosesan informasi social (diproses lebih cepat dan lebih mudah diingat), sehingga mengakibatkan teerjadinya seleksi pada informasi—informasi yang konsisten terhadap stereotip akan diproses sementara yang tidak sesuai stereotip akan ditolak atau diubah agar konsisten dengan stereorip. Reaksi lain terhadap informasi yang tidak konsisten adalah membuat kesimpulan implicit yang mengubah arti informasi tersebut agar sesuai dengan stereotip. Stereotip seperti penjara kesimpulan (inferential prisons): ketika stereotip telah terbentuk, stereotip akan membangun persepsi kita terhadap orang lain, sehingga informasi baru tentang orang ini akan diinterpretasikan sebagai penguatan terhadap stereotip kita, bahkan ketika hal ini tidak terjadi.
So what? Sebagai orang yang ngata-ngatain sih mungkin ga akan terlalu peduli ya, tapi hal-hal yang kaya gini tentunya ngga enak banget sama orang yang dikenai stereotype judgement ini. Kata modul KSPK saya (di teori humanistik), manusia itu punya kebutuhan untuk diakui. Ga ada yang rela dan bersenang hati kalo dirinya dilabeli sembarangan sama orang lain hanya karena alasan-alasan yang ga relevan dan rasional. Orang ngga ngapa-ngapain, udah dianggap salah aja. Orang udah berusaha sebaik mungkin jadi insan berguna, dicap makhluk remeh. Orang yang dikenai stereotype positif, tau-tau ngerasa beban yang berat banget karena ditimpakan judgement yang dianggap terlalu baik buatnya. Padahal Allah Yang Maha Mengetahui (yang emang tau kita gimana) dan Yang Maha Menghakimi (Ia yang paling haq dan berhak untuk menghakimi) aja ngga ngejudge kita sebelum waktu yang ditentukan-Nya ya, ko kita yang ngga tau berani-beraninya sok tau :|

Sedih. Betapa piciknya orang-orang yang senantiasa menilai seseorang berdasar stereotype. Lupakah bahwa setiap insan itu berbeda dan unik? dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan sodara-sodara....

Tapi ko yang namanya stereotype ini gabisa lepas sih? Ngelepasinnya gimana? Terus kalo ga ada manfaatnya, untuk apa sih si stereotype ini diciptakan?

Ada yang bilang si stereotipe ini bisa berguna buat kita buat ngira-ngira komunikasi pertama seperti apa yang digunakan biar komunikasi berjalan baik. Misalnya golongan ini ga suka A, maka kita pas kenalan jangan nyinggung-nyinggung soal itu, kan kali aja bener. Intinya: buat rujukan penilaian awal, bukan untuk menjudge seseorang.

Terus gimana caranya biar bebas dari stereotype tadi? 

Ga enak kan yah dibayang-bayangin terus sama stereotype, semua perilaku kita dijudge berdasar stereotype yang masyarakat punya. Jika ada serangan dari luar, maka cara yang paling ampuh untuk menangkalnya ya bentuk pertahanan dari dalam dong. Ayo tandingkan pencitraan untuk membentengi stereotype!!!

Lah ko balik lagi?
Iya, saya pikir untuk kondisi seperti ini, pencitraan bisa jadi jurus ampuh buat mengubah stereotipe yang dilekatkan pada diri kita. Bukan pencitraan yang dibuat-buat, melainkan kita lebih menunjukkan siapa kita baik dalam tutur kata, maupun sikap dalam berinteraksi. Saat kita pertama kali berinteraksi dengan suatu komunitas, jangan biarkan penjara berupa stereotype itu terbentuk. Saat ada momen baik untuk menampakkan jati diri, tunjukkanlah. Lakukan pencitraan keluar--ini loh saya, terlepas dari faktor saya orang ini atau orang itu. Jangan biarkan stereotype membatasi ruang gerak kita :) 

0 komentar:

Poskan Komentar

girl's stuff

bagja kana Sunda

Taujih

 

Titik Senyap Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by Buy Engagement Rings | Infidelity in Marriage by Blogger Templates