Kamis, 27 Maret 2014

Detoksifikasi #1


Beberapa waktu berselang setelah kematian Ainun, Habibie masih linglung. Suatu hari, pukul 02.30 dini hari, masih dengan pakaian tidur, Habibie berjalan kaki di sekeliling rumahnya. Ia menangis seperti anak kecil yang mencari ibunya. Orang-orang sekitarnya pun mengkhawatirkan keadaannya.
Habibie kemudian konsultasi dengan profesor dokter yang telah menjadi langganan keluarga. Hasil pemeriksaan itu menyatakan hubungan Habibie-Ainun terlalu dekat. "Psikosomatis malignant istilahnya, sehingga tenggelam dalam kesedihan," Habibie berujar.
Menurut tim dokter, cerita Habibie, jika dia tak berbuat apapun, Habibie bisa mengikuti jejak istrinya. Maka, dokter pun memberi empat saran. Pertama, Habibie dirawat di rumah sakit jiwa. Kedua, tetap di rumah tapi ada tim dokter dari Indonesia dan Jerman yang ikut merawat. Ketiga, curhat kepada orang-orang yang dekat dengan Habibie dan Ainun. Keempat, dengan menulis.
"Saya pilih menulis, saya pilih yang keempat," ujarnya.
Dan Habibie masih bertahan hingga detik ini. Sembuh. Maka saya putuskan untuk meneruskan jejaknya, hehe.

Dengan harapan menulis akan menyembuhkan saya, disini saya tuangkan unek-unek yang rasanya setahun ini mendarah daging dalam diri saya.
Detoksifikasi. Operasi pembedahan dan pengambilan racun demotivasi pada diri saya. Yang setiap harinya kambuh selama sembilan setengah jam.Dari jam setengah 8 sampai jam 5.
Kayak jam kantor, ya?
Iya, emang penyakitnya kambuh di kantor.
Apa sakitnya gara-gara kantor?
Ngg...kurang lebih begitu.
Saya semangat sih kerja kantoran. Senang karena organisasi tentunya udah ada visi isi. Kemanapun saya berjalan, setidaknya saya mendapat kepastian keep on track. Satu hal yang saya senangi daripada berwiraswasta yang nyerimpet dikit bisa keluar jalur. Ya, wanita memang butuh kepastian kan. dan kelihatan saya orang yang pengennya numpang ikut arus doang.
Tapi semua berubah saat negara api menyerang.
Saat ekspektasi bertepuk sebelah tangan.

#flashback
Selagi kuliah (yang motifnya lebih ke arah mengejar ridho orangtua, karena saya sebenarnya tidak tertarik dengan akuntansi-ekonomi-dsb dsb), mata kuliah yang terlihat paling keren di mata saya adalah Auditing. Saya yakin semua anak yang tumbuh dengan obsesi pada Detective Conan pasti akan menyenangi Audit daripada Akuntansi. Seperti detektif yang mencari clue demi clue untuk menguraikan kasus, auditor memeriksa dokumen demi dokumen untuk membuktikan kesesuaian realita dengan laporan di atas kertas.
Saat membuat opini mungkin sensasinya akan seperti Kudo mengangkat telunjuknya, "Dia pelakunya!"
Mungkin.
Lagipula, mengaudit satu instansi demi instansi berarti penjelajahan objek demi objek baru. Kasusnya juga pasti baru dong. Ngga ada ceritanya berpuluh-puluh tahun mengaudit kesalahannya disitu-situ aja, yang itu-itu aja, karena faktanya modus kejahatan terus melahirkan inovasi. Auditor nggak akan kehabisan bahan temuan dari upaya objek audit memanipulasi laporan. Makin tinggi jam terbang, makin banyak ilmunya.
Begitulah, saya lulus dengan BPK atau Itjen sebagai impian.

#flashbacknya maju dikit
"Selamat ediiiiis kamu masuk DJBC. anis fera nurul juga masuknya bc. Aaaah kok kalian bisa samaan siiiih?"
Salahsatu sms ucapan selamat waktu itu. Mbak Dini, Mbak Efi, Mbak Irin, mbak kostan yang superperhatian sama adik-adiknya *kecup satu-satu* ngucapin selamat saat pengumuman instansi. Mereka bahkan tahu lebih dahulu daripada yang berkepentingan :')
Saya sendiri lagi anteng bikin pola rok, minggu kedua saya les jahit di dekat rumah. Tahu-tahu dapat kabar mengagetkan itu.
Reaksi pertama:
"Alhamdulillaaah akhirnya penempatan jugaa :')"

Reaksi kedua:
"DJBC itu apaan ya? baru denger."
-Harap maklum. Saya mahasiswi akuntansi dan saya wanita. Jelas sebelum saya, DJBC tak ada kepentingan dengan kualifikasi yang saya pegang (wanita spes akuntansi). Jadi jelaslah saya juga tak memperhatikan pihak yang tidak berkepentingan dengan saya itu.

Reaksi ketiga:
saya sms Aa
"Aa Alhamdulillah esti masuk djbc. Tapi djbc teh apaan, ya?"

dan bla bla bla. Begitulah saya menyambut kabar penempatan saya dengan kepala blank.

***bersambung***

0 komentar:

Poskan Komentar

girl's stuff

bagja kana Sunda

Taujih

 

Titik Senyap Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by Buy Engagement Rings | Infidelity in Marriage by Blogger Templates