Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Maret 2014

Detoksifikasi #1


Beberapa waktu berselang setelah kematian Ainun, Habibie masih linglung. Suatu hari, pukul 02.30 dini hari, masih dengan pakaian tidur, Habibie berjalan kaki di sekeliling rumahnya. Ia menangis seperti anak kecil yang mencari ibunya. Orang-orang sekitarnya pun mengkhawatirkan keadaannya.
Habibie kemudian konsultasi dengan profesor dokter yang telah menjadi langganan keluarga. Hasil pemeriksaan itu menyatakan hubungan Habibie-Ainun terlalu dekat. "Psikosomatis malignant istilahnya, sehingga tenggelam dalam kesedihan," Habibie berujar.
Menurut tim dokter, cerita Habibie, jika dia tak berbuat apapun, Habibie bisa mengikuti jejak istrinya. Maka, dokter pun memberi empat saran. Pertama, Habibie dirawat di rumah sakit jiwa. Kedua, tetap di rumah tapi ada tim dokter dari Indonesia dan Jerman yang ikut merawat. Ketiga, curhat kepada orang-orang yang dekat dengan Habibie dan Ainun. Keempat, dengan menulis.
"Saya pilih menulis, saya pilih yang keempat," ujarnya.
Dan Habibie masih bertahan hingga detik ini. Sembuh. Maka saya putuskan untuk meneruskan jejaknya, hehe.

Selasa, 14 Agustus 2012

Kipas Angin



Kost pertama saya, Blossom namanya. Kamar paling depan, jendela cukup besar bersambungan dengan gudang—mengundang nyamuk-nyamuk ganas  jelang petang hingga subuh hari. Well, kamarnya cukup sejuk sih.
Enam bulan kemudian, saya pindah kostan atas pertimbangan jarak, waktu, dan juga harga kost lama yang di luar jangkauan saya. Kost baru ini, sebuah rumah. Tua, tapi cozy. Sayang, kamarnya puanas.
Untungnya, mbak kost yang dulunya menempati kamar saya, Mbak Vita (aka Bitong, nama sebenarnya) meninggalkan sebuah kipas angin besar di kamar. “Males bawa ke Semarang,” ujarnya.
Jadilah saya menggunakan kipas angin itu setiap hari. Hari demi hari, bulan demi bulan. Hingga hampir setengah tahun saya perhatikan, debu-debu yang menempel pada kipas itu tak dapat ditolerir lagi.
Mulanya saya hanya mengorek-ngorek gumpalan debu dengan cotton bud. Tapi saking tidak efektifnya, saya jadi gemas ingin membongkar kipas angin itu. Lagi-lagi sayang, sudah saya bolak-balik kipas angin tersebut, tetap saja have no idea untuk bisa membongkar kipas angin tersebut.
Jurus terakhir, telepon Mbak Vita.
“Mbak, aku kan mau bersihin kipas angin mbak. Ko susah banget ya?”
“Kipasku? Ih ngapain dibuka-buka? Diguyur aja beres. Aku sih tinggal bawa ke kamar mandi, guyur pake aer, beres deh..”
“...”
Akhirnya saya nurut. Kipas angin itu saya bawa ke kamar mandi, saya guyur tiga kali, lalu dikeringkan. Hasilnya?
Kipasnya bersih sih sih.  Tapi malangnya, beberapa lama kemudian dia mati total. Almarhum.
Yah, mungkin memang yang mandiin harus yang punya, atau memang engga jodoh. Akhirnya saya beli yang baru. Kipasnya mbak Vita masih bertengger manis di pojok mushala sampai sekarang.

Jumat, 19 Agustus 2011

yang jauh, yang terabai, yang terlupakan


Suatu hari, beberapa hari yang lalu, ga ada angin ga ada ujan si ijal ngetwit ke saya sama ilham:


 Papih Fakhru 

#bengong #hening


si ilham kayanya lagi ga OL. Terus karena penasaran juga, saya copy lah twitnya dia terus saya googling. Link yang pertama saya liat, jagong tuhur meunang ngunun haturan bagea sumping itu suka jadi pembuka seserahan kawinan. Lah, siapa yang nikah? 
Setelah saya scroll, akhirnya ada link yang kayanya ngga sesat. Di situs itulah saya temukan jawabannya (sfx: cring cring cring). Yang Ijal twit itu namanya WAWANGSALAN. Sesuatu yang terakhir kali saya dengar waktu SMP. Sedih ya

Seharusnya, kita ngga berjodoh ya


Entah mantera tidur macam apa yang disisipkan ke dalem modul kompre, kedua modul pembahasan itu bikin saya ngantuk seketika. Paling lama dua halaman, setelah itu saya ngga tahan untuk meraih bantal dan menenggelamkan muka di dalamnya.

Ironis. Mengantuk saat mempelajari bahan, termangu saat mengerjakan soal, namun tak dapat memejamkan mata sedetikpun setelah keluar dari ruang ujian. Bahkan kasur yang kuat gaya gravitasinya pun, tak mampu membuai saya dalam mimpi. Terbalik dari yang seharusnya. Siklus yang menyebalkan. 

tanya kenapa saya berdiksi seperti ini? karena emang lagi ga nyante, hehe

Lalu hari ini, Alhamdulillah lebih baik dari kemarin. Seharusnya saya piket kosan. Seharusnya saya ngeberesin kamar dan nyuci baju. Seharusnya saya mengerjakan hal-hal yang tertunda selama dua hari ini. Tapi lagi-lagi kata seharusnya tidak berjodoh dengan saya. Buku Madre yang akhirnya saya dapatkan (meski cuma pinjem sehari di tik tok) sehabis ujian tadi, merajuk minta dibaca. 

Lalu, ketika seharusnya saya menikmati Madre hingga selesai, lagi-lagi gangguan muncul. Baru saja habis melumat kata pengantarnya, otak saya memanggil-manggil, mengajak saya ke alam lain.

Lihat! editor Madre ini memainkan kata-kata. Kamu sudah lama tidak melakukannya kan? Aku kangen, dan pastinya kamu juga. Ayo kita nostalgia sekarang! Ayo kita main lagi sama kata! Kita rangkai, kita ramu! Itu ajak pikiranku, menarik-narik mataku agar pergi dari Madre.

Nah, kemana semua diksi yang lalu saya punya? Banyak yang hilang. Kosakataku terbatas sekarang. Mereka marah, lama tak dirawat. Marah diabaikan, mereka berlarian hilang. Yah, mau tak mau saya harus mulai dengan yang saya punya.

Lalu, pikiranku mengajakku meramu sajak. Atau menenun sebuah kisah. Atau apapun, apapun. Tapi saat seharusnya saya asik merangkai kata, tiba-tiba minat itu tak minta diturutkan lagi. Sudah merasa cukup disini. Di titik ini.

Ah seharusnya, kita memang ngga jodoh ya..

Kamis, 18 Agustus 2011

Mengapa Menulis?


Sebenarnya dulu saya ngga kepikiran buat belajar nulis. Sekalinya nulis di note fb gara-gara galau. krik krik. Saya mencukupkan diri dengan menyenangi tulisan teman-teman saya yang pinter dan seneng nulis. Banyak motivasi dan hal lain yang bisa saya ambil. Kebanyakan dari teman saya juga mulai menulis, termotivasi dari lingkungannya. Mencontoh kakak kelas/ tingkat, lalu mulai belajar menulis bersama-sama. Saling sharing, saling mengapresiasi, saling menyemangati. Lingkungan yang seperti itu, sangat menyenangkan untuk bertumbuh dan belajar. Bawaan saya yang haro (males) aja yang bikin saya ngga mencicipi rasanya belajar nulis bareng seperti apa.

Musim ujian dateng, berbagai macam buku, buletin, dan artikel blog berganti jadi buku sukses UAN, seribu pena, dan bundelan latihan soal. Selepas ujian, capek rasanya sama yang namanya tulisan. Butek liat kata. Jelang masa perkuliahan tingkat dua, hidup saya di-(sok)-sibukkan dengan kegiatan kampus. Jujur itu masa paling buta buku buat saya. Saya lebih akrab dengan laptop daripada buku. Sekalinya online, saya nguprek fb dan social network lain. Atau baca scanlation manga. Atau ngga online pun, saya nonton drama korea.

Lambat laun dampaknya muncul juga. Materi perkuliahan sulit saya cerna. Yaa emang mumet dari sananya sih, tapi saya yang sekarang, bahkan ngga punya kekuatan buat mantengin bukunya. Mantengin aja ga bisa, apalagi mencerna. Sigh. Lalu saya nyentuh lagi buku-buku lama. Well, kecepatan baca saya menurun. Kemampuan baca saya menurun =,=. Seiring menurunnya minat dan kemampuan saya membaca, menurun juga kemampuan saya mengolah kata. Nah yang ini fatal, karena...

At least umumnya saya ujian kan bentuknya essay. Saat temen saya nambah kertas folio saat ujian, bahkan sampai 3 x nambah (yang berarti 4 double folio/ 8 lembar folio), saya mencukupkan diri dengan 1 double folio saja. Buat saya sih kurang kerjaan juga ngarang panjang-panjang. Tapi kalau dosennya berpandangan lain, ya gimana..

Selain itu juga, ternyata banyak manfaat yang saya lewatkan dari kegiatan mengakrabkan diri dengan kata ini. Saya pernah baca sebuah artikel, orang yang sering menulis biasanya punya kemampuan berbicara yang baik juga. Ini pasti karena udah biasa mengolah kata. Kalau orang udah suka nulis tapi kemampuan bicaranya biasa aja, ya apalagi kalo dia jarang nulis. Punya kemampuan berkomunikasi yang baik itu ngga jelek kan? Ini yang bikin saya tertarik buat belajar nulis.

Meski seringkali tulisannya ga banyak guna buat orang sampai saat ini, well saya udah cukup puas sih. Yang penting biasain menulis dulu lah yaa, semoga ntar saya better dalam nulis ^^.


kenapa nulis ini? karena saya sungguh ingin ngeblog hari ini tapi entah nulis apa, hehe. 

Senin, 15 Agustus 2011

Tetanusnya Jadi Ngga?


Habis ngantri wisuda Jum'at lalu, fisik saya udah ga ngasih toleransi lebih jauh lagi. Sampai di kosan saya langsung tidur. Padahal udah pasang alarm jam 10 pagi, tapi apa daya baru bangun jam setengah 1 u.u.
Saya amatin luka saya yang ditutup sama plester sedari malem, terus saya lepas plesternya. Niat saya mau ganti. Tapi begitu ngeliat lukanya dengan seksama...
O ow, dagingnya keliatan =____________="
Ternyata luka itu goresannya dalem juga. Saya kira cuma luka biasa, orang ngga kerasa sakit banget. Saya tanya satu-satu penghuni kosan, mereka sama-sama ngerenyit liat luka saya yang kayanya lebih parah dari semalem. Nurul berbaik hati ngasih minyak tawon. Tapi ditunggu-tunggu ko ga kerasa efeknya ya.. dan feeling saya ini lukanya mesti dijahit.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Akhirmu dimana?


lengkapnya bisa dibaca di http://salingsilang.com/headline/artikel/canda-sebelum-ajal-menjemput

setelah berhasil membujuk diri sendiri, "ayo abis tamat satu paket soal tar boleh internetan beberapa jam, ngepost di blog (yg ternyata beberapa jamnya itu sama kaya seharian juga), saya menahan diri untuk ngga buka laptop dulu. Jadi ga apdet dari pagi.

Selepas dzuhur, saya ngecek twitter. Ada temen, sebut aja mutantitan (berasa ga ada temen laen ya saya, sedih :'( ) ngtwit tentang adek lesnya yang meninggal. Dia juga ngeRT twitnya Dinar, dan Poconggg. Nah yang bikin saya heran ko si Poconggg ini sampe tau. Penasaran, saya track siapa yang dimaksud. Ada dua orang, remaja putri. Twit-twit terakhir mereka nunjukkin kalo mereka kayaknya lagi asik sama yang mereka lagi ngalamin:

Wisuda 2011: Rebutan!!


Apa sih yang kebayang waktu denger kata wisuda: tinggal bayar terus leha-leha dilayanin ini itu, dateng rame-rame sama keluarga, ngikutin prosesi dengan nyaman tentram sentosa, foto-foto, selesai deh. 

Tapi buat kita angkatan 2008-lulusan 2011 STAN beda ceritanya. Udah bayar dengan biaya yang ngelonjak jauh dari tahun lalu, masih perlu usaha ekstra juga biar bisa ngikutin prosesi wisuda yang standar #ngeluhmodeon.

Selasa, 09 Agustus 2011

Gagal Baca



Euhm, gimana ya..padahal ini bukunya best seller di Indonesia. Reviewnya bagus, banyak banget yang muji. Bahkan ada yang bilang beliau mendapatkan banyak energi saat baca ini. Tapi saya justru ngerasain banyak aura negatif waktu baca buku ini ==”.

Apa sih yang bisa bikin kita selesai melahap sebuah buku? Banyak hal. Tema cerita, konflik, kerumitan alur, karakter tokoh, gaya bahasa, pembawaan cerita. Perpaduan yang pas dari seluruh faktor itu yang bikin sebuah buku enak dibaca.

Kadang ada beberapa unsur yang kurang dari sebuah buku yang bikin pembacanya ngga puas saat menamatkan buku itu.  Sebenernya saya termasuk golongan orang yang terima jadi. Jarang banget saya ngomentarin “Aduh ini harusnya endingnya gini, aduh kenapa sih si ini ga milih si itu aja?, Harusnya si ini itu kaya gini, si itu ga boleh kaya gitu...”. Saya cuma baca, apapun hasilnya saya terima, terus ya menilai buku itu apa adanya aja, segimana jadinya aja. Jadi berhenti baca buku di tengah-tengah karena ngerasa ga worthed buat dibaca itu termasuk jarang saya alamin.

Senin, 08 Agustus 2011

Harry Potter and Deathly Hallows #2


Hari gini baru nonton Harry Potter? Kemana aja?

Haha, saya emang ngga nyempetin buat nonton kemaren-kemaren. Rencananya sih ngajakin adek, Ala tapi berhubung dia ga punya duit dan saya juga ga punya duit buat nyubsidi, akhirnya hari ini saya pergi nonton sendiri. Butek juga di rumah, dari kemaren sore kerjaannya aliran listrik terus. Semaleman malah saya serasa jagain lilin sendirian di rumah =__=. Berbekal dua modul UKS buat pencitraan, saya berangkat ke BIP.

Karena udah tanggal segini, Alhamdulillah antriannya ga heboh. Yang lagi rame sekarang the Transformers 3, BIP 21 buka dua studio utama sementara Harry Potter kebagian dua studio kecil. Jeda nunggu setengah jam saya pake buat buka modul soal (baru sekali ini loh buka modul) dan soal-soal di modul itu menyadarkan saya bahwa saya harus berjuang keras buat kompre :') *belom belajar juga sih sampe sekarang.

It Called: Reunian


Bermula dari note-nya Hasnah, berlanjut ke pembuatan grup DAFA 2008 (kenapa ga dari dulu dibikinnya ya :p), terus kita fix mau ngadain buka bareng dua kali, yaitu tanggal 5 dan 20-an Agustus ini. Karena tanggal 20 kan lagi kompre, jadi kesempatan saya buat ketemu lagi sama sodara seperjuangan semasa sma ini ya cuma tanggal 5 ini aja. Dengan waktu perencanaan dan publikasi mepet (berasa acara resmi), Alhamdulillah yang dateng lumayan, bersepuluh. Rencana awalnya sih, biar lebih bermakna rencananya sebelum ke tempat Rifa sang tuan rumah, kita ngadain kunjungan ke Panti Asuhan Bayi Sehat. Tapi ternyata pada berhalangan, yang positif bisa kesana cuma saya sama Nita aja, padahal ngga ada dari kita yang tau Panti Asuhan Bayi Sehat itu dimana. Krik krik. Akhirnya tercetus ide kunjungannya besoknya aja habis balik sahur, mungkin yang bisa lebih banyak.

Minggu, 07 Agustus 2011

1 Ramadhan: 3 Wanita 3 Cerita


Kemana atuh judul.... heu.

Awal Ramadhan, biasanya ngapain sih? Semangat shaum Ramadhan pertama, menjalani hari dengan ringan hati, menikmati setiap detik-detik sahur, shaum, berbuka, tarawih, serta ibadah lainnya.
Begitu juga saya. Sekilas hari itu tampak segitu aja yang saya ketahui. Namun ternyata 1 Agustus 2011 yang bertepatan dengan 1 Ramadhan kemarin bukan sekadar awal Ramadhan biasa bagi ketiga wanita di dalam keluarga saya. Tiga wanita dalam keluarga saya itu memiliki satu persamaan: sama-sama dititipi Allah sebuah janin, namun dihadapkan dengan nasib yang berbeda.

Selasa, 02 Agustus 2011

Cerita si Vespa Tua


Akhir-akhir ini motor jenis skuter booming lagi. Waktu liat iklan Scoopy, saya jadi inget kalo sampe kelas 5 SD dulu, ayah saya (saya manggil beliau Bapak) punya vespa. Vespanya standar aja sih. Warna biru tua, dengan jok yang menyatu biar bisa bonceng dua orang sekaligus.

Vespa perjuangan ini punya banyak kenangan. Bapak ngandalin banget vespa ini buat ngejalanin semua kegiatannya. Buat nganter jemput ibu atau anak-anaknya, buat pergi ngajar, juga buat kerja (dan demi apalah, ini kan emang fungsi standar motor =.="). Dulu, ayah saya nyambi pekerjaan ngajarnya dengan membuka usaha komputer. Beliau jadi penyuplai komputer di beberapa sekolah. Sampai kelas 3 sd dulu, saya sama adik saya, Edmar suka diajak kemana-mana, malah sampai Banjaran. Secara rumah kita di Bandung gituu.. (ket: rumah saya yang dulu, saat itu wilayahnya masih diklaim sebagai wilayah Bandung). 

Yang suka bikin saya ketawa sampai saat ini, adalah cara Bapak ngejagain kita waktu lagi bepergian. Jarak tempuh yang jauh, waktu perjalanan yang panjang bikin saya sama Edmar suka ngantuk di jalan. Bapak takut kita jatoh di jalan gara-gara ketiduran. Akhirnya Bapak nyari sesuatu yang cukup panjang (akhirnya dipakelah tali tas kerjanya Bapak) buat ngiket kita bertiga. Jadi Bapak bisa tau kalo ada yang ngantuk, terus kalo kita ketiduran ga akan sampe jatoh. Untung waktu itu saya belom kenal sama yang namanya malu ^^. Apa jadinya kalo sekarang saya disuruh naek motor sambil diiket sama tali...

Terus dulu kan ngga ada aturannya helm SNI. Jadi selain helm SNI yang dipake Bapak, cuma ada dua helm a la tentara. Satu warna ijo yang biasa saya pake, satu lagi kadang ketemu kadang ilang. Jadi kalo kita naek motor nih, yang pake helm cuma saya sama Bapak. Edmar ditaro di tengah. Sekalian dijagain, biar ngga gampang keliatan juga sama polisi ^^v.

Nah helm ini, gede banget kalo dibandingin kepala saya. Kalo saya lagi ngantuk, atau motor direm, helmnya bisa kedorong ke depan terus nutupin setengah muka saya. Kalo anginnya lagi kenceng atau Bapak saya lagi ngebut, helmnya kedorong ke belakang dan meski ada talinya buat disangkutin ke dagu..sering banget kelempar jatoh ke jalan. Kalo udah gitu, saya teriak-teriak ngasihtau Bapak saya buat berhenti dulu. Sekali waktu, helm tentara itu jatoh ke jalan dan malangnya ada truk lewat ngelindes itu helm. Saya cuma bisa bengong. Terus Bapak marah-marah, "Makanya kalo naek motor jangan ngelamun, pegangin itu helmnya!!!"

Heu, maaf pak. Maaf ya helm, semoga kamu tenang di alam sana :').

Jumat, 22 Juli 2011

Soulmate goes to Tidung 2


Makrab!!
Malemnya, kita pergi ke warung tepi laut. Disana kita dibakarin ikan (gatau ikan apa namanya) ceritanya. Pas dateng ke warungnya, kita disambut dengan musik-musik reggae gitu. Yang cowok-cowok pada ikutan nyanyi (saya ga kenal sama reggae sih). Malah Rifki sambil joget-joget ga jelas gitu. Sampe diketawain sama anak-anak kecil yang ngintipin, dia baru berhenti.

Sambil nungguin ikannya mateng, kita ngegelar tikar dan lesehan disitu. Radit sempet banget bikin jingle Tiga E. Intronya keren, nadanya keren, liriknya...krik krik krik. Gini jinglenya:

Soulmate goes to Tidung 1



Selasa Rabu kemarin, tanggal 19-20 Juli 2010, akhirnya kelas saya makrab juga. Asiknya karena makrab ini diadain selepas kuliah beres, jadi pulang makrab bisa leyeh-leyeh gausah mikirin utang kuliah lagi (ga nyadar UAS dan kompre depan mata). Dengan total pengeluaran 210.000 (150rb+60rb buat snorkeling), dua hari satu malem itu kerasa singkat banget, tapi worthed karena banyak hal yang pertama kali saya alami dan lakukan disana.

Saking niatnya, kita kumpul jam 4 subuh di depan gerbang STAN. Katanya biar ga ketinggalan kapal karena kita ngebooking kapal buat hari sebelumnya, Senin. Emang rencana awalnya kita berangkat Senin karena weekend penuh. Tapi Bendi, Pitong, sama Aldian baru bisa ngeberesin KTTAnya hari Senin itu. Jadilah keberangkatan kita diundur sehari.

Rabu, 29 Juni 2011

Euforia SNMPTN


SeNaMPeTaNi :)
Saya inget banget sewaktu baru lulus SNMPTN. Bareng Hasnah, Juhe, Nita, sama beberapa orang lainnya ngumpul di warnet warung padang seberang sekolah. Nomor demi nomor bergantian kami masukkan. Baik Selamat!, maupun Maaf, semuanya disambut dengan seru syukur, tangis, istighfar. Saling berpeluk. Bahkan ketika pulang saya sampai salah naik angkot saking penuh dengan air mata di pelupuk. Sampai di rumah, saya mengabarkan ibu saya penuh sukacita. Yang disambut ibu dengan senyum dan hamdalah; lalu sejurus kemudian kembali berkonsentrasi pada agendanya saat itu.

Catatan Minggu Ini


Udah seminggu penuh saya ngga ngeblog...padahal lumayan banyak yang bisa diceritain. Saya rangkum di postingan ini aja jadinya.

Kamis, 23 Juni 2011
KTTA saya resmi disetujui, Alhamdulillah :). Hari selasa minta tandatangan ke dosnil 2, Pak Margono bareng Jude sama Ewon. Ngga seperti dua teman saya ini, lembar pengesahan saya justru di tandatanganin terlebih dulu sama dosbing/dosnil 1 saya, bu Iin Indrawati. Ternyata kata beliau, prosedurnya ke dosnil 2 dulu baru ke dosnil 1. Hemm jadi malu ><. Tapi meski gitu, ternyata saya kelupaan minta tanda tangan Bu Iin di lembar tanda pernyataan lulus. Jadilah hari Kamis saya ke gedung B lagi buat minta tanda tangan ke Bu Iin.
Ternyata Bu Iin mau cuti selama sebulan. Kata beliau, " Iya, emangnya kalian aja yang bisa libur..Saya juga bisa dong."
Hehe, iya bu ngerti. Selama masa bimbingan kan Ibu juga repot ngoreksi soal ujian DIII khusus, kayanya kerjaannya banyak banget dan mana kita-kita anak dosbingannya gat tau diri suka ngerongrong ngejar-ngejar ibunya lagi. Selamat liburan Bu :)

Rabu, 22 Juni 2011

Double Posting Blog


Kalo ini masalah saya sedari siang tadi. Waktu ganti-ganti template blog, entah kenapa elemen posting blog nya ada dua. Jadi kan dobel-dobel postingannya. Waktu saya otak-atik dan ngecek HTML di Rancangan > Elemen Laman, ngga berhasil. Pas saya googling ternyata ngga ada yang memuaskan. Malahan dibilang, udah ga bisa diapa-apain lagi, biarin aja. Sedih kan =________="
Yasudah saya cari di Blogger Help. Rada males juga soalnya pake bahasa inggris. Tapi demi rasa penasaran, yasudahlah. Tulis Double Posting Blog di kolom search..dan ini hasilnya:

Ternyata Masalahnya bukan di Elemen Laman tapii di Edit HTML nya sodara. Berikut penjelasannya:


Go to Layout - "Edit HTML". Do not check "Expand Widget Templates". Look for two lines, in the Body of the template (Cek Menu Rancangan -> Edit HTML. Perhatikan kolomnya. Jangan centang/ tandai "Expand Widget Templates". Cari dua baris berikut di kolom template):

<b:widget id='Blog1' locked='true' title='Blog Posts' type='Blog'/>
<b:widget id='Blog2' locked='true' title='Blog Posts' type='Blog'/>

Remove the second/ Hapus baris kedua.

<b:widget id='Blog2' locked='true' title='Blog Posts' type='Blog'/>

Leaving the first/ biarkan yang pertama.

<b:widget id='Blog1' locked='true' title='Blog Posts' type='Blog'/>

eniwei di saya sih nemunya
<b:widget id='Blog1' locked='true' title='Blog Posts' type='Blog'/>
<b:widget id='Blog2' locked='false' title='Blog Posts' type='Blog'/>

tapi saya remove juga. sama aja ko. terus klik Simpan Template. Di atas kolom template yang isinya kode-kode itu mungkin ada peringatan kalo template yang baru aja kamu simpen ngga mengandung widget Blog2 . Pilih Hapus Widget dan Simpan template lagi. Si double posting ilang deh :D

Caps Lock Reversed


Pas lagi ngerjain tugas (tepatnya baru aja), saya ngalamin kejadian yang aneh. Pas saya mau mencet tombol %, kan saya harus pencet shift + 5 tuh. Tapi karena udah setengah sadar, butuh waktu yang lamaa buat nemu tanda % di keyboard. Sambil nyari-nyari kan saya pencet tombol shiftnya terus tuh. Eh pas mau nulis lagi...
ko hurufnya KAPITAL padahal capslocknya ga on. terus pas mau ngetik titik yang muncul malah tanda >. Nah looh...

Setelah saya googling, ternyata solusinya sederhana aja. Tinggal pencet kedua tombol shift beberapa waktu, terus coba ngetik lagi. Insya Allah balik normal lagi ^^

*kebodohan saat begadang, haha

***
If the caps lock suddenly got reverse function (When it pressed in ON condition, the alphabet becomes small letter. But when it pressed OFF, the letter becomes capital one), the solution is simply to press both shift buttons together for some times. Then check it whether it function properly or not.


Sabtu, 18 Juni 2011

Saat Harus Berdiri Sendiri


Satu dari sekian orang-orang luar biasa yang pernah saya temui.
Allah mengizinkan saya berjumpa dengan beliau dalam suatu majelis. Saat baru tiba ke tempat majelis itu akan dimulai, beliau duduk di tempat yang agak gelap. Sekilas saya tidak bisa memperkirakan usianya. Mungkin sekitar 40-an? Tapi dugaan saya salah ketika kami berpindah ke tempat yang lebih terang. Mukanya terlihat tua namun tak ada kerutan/ keriput tanda penuaan di wajahnya. Aneh?
Tak lama kemudian saya tahu jawabannya. Bukan boros, namun karena keadaannya lebih luar biasa jika dibandingkan dengan rekan-rekan seusianya.

girl's stuff

bagja kana Sunda

Taujih

 

Titik Senyap Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by Buy Engagement Rings | Infidelity in Marriage by Blogger Templates